• Breaking News

    Just Share... bukan bermaksud menggurui ataupun sok suci hanya ingin berbagi.....

    Test Footer

    Jumat, 20 Juni 2014

    ekonomi setan

    Kisah Sukus dan Tukus by A Riawan Amin (satanic finance)

    Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau
    yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan
    Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup
    sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang
    subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian
    mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis.lkan dan sumberdaya laut sangat
    melimpah. lidak hanya itu, Pulau Aya terkenal
    dengan panoramanya yang indah. Gemericik
    air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik
    tersendiri. Tak heran bila pulau ini rnenjadi tempat  
    tujuan para pelancong dan wisatawan lokal
    maupun luar pulau.
    Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban
    yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang
    mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka
    bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia
    ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas
    dan menyimpannya sebagai simbul harta ke-kayaan.
    Selain sebagai simbul peradaban, emas juga
    berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka,
    sang ketua suku, mencetak koin emas, maka
    semua transaksi jual beli yang semula dilakukan
    dengan barter beralih dan diukur dengan emas.
    Berdagang pun menjadi lebih mudah dan
    simpel.
    Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian.
    Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting.
    Ini bisa dilihat-dari cara mereka yang saling
    tolong-menolong. (Kami di dunia setan sangat
    membenci perilaku ini). Ketika anggota suku  
    membangun rumah baru karena rumah
    lama tersapu ombak. yang berarti menguras
    emas simpanannya. anggota-anggota suku
    lainnya dengan suka rela meminjamkan em as
    miliknya. Hebatnya. tanpa charge atau tambahan
    apapun. "Dasar manusia bodoh. sudah me-minjamkan uang kok tidak mau minta kom-pensasi." begitu gerutuan kami.
    Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu
    saja, mereka juga bergotong royong satu sarna
    lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin. paling
    tidak, mereka lakukan inj dengan riya. Pantas-lah bila kerudupan mereka meskipun sederhana
    tapi diliputi semangal keseliakawanan yang
    tinggi. Anggola suku terbiasa bahu-membahu
    mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata.
    mereka hidup rukun dan damai.
    Sementara pulau tetangganya. Pulau Baya.
    didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduk-nya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di
    sawah atau ladang dan memelihara lernak.
    Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus.
    memproduksi kerajinan tangan.
    Dibandingkan suku Sukus. mereka lebih
    sederhana. Mereka masih menggunakan sistem
    barter dalam transaksi keseharian. Yang meng-hasilkan padi menukar berasnya dengan ke-rajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang
    secara ekonomi. kesejahteraan mereka di bawah
    suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya
    pekelja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota
    yang indah dan maju seperti halnya Sukus.
    Sesekali mereka menjual hasil bumi dan
    handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka.
    apalagi para wanitanya, sangat senang me-nerima koin emas sebagai jasa dari padi atau
    kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meski-pun berbeda dalam hal kesejahteraan. ada satu
    persamaan menonjol di antara Sukus dan
    Tukus. Mereka sama-sama hidup damai. rukun.
    dan saling tolong-menolong. Mereka sering
    bersilaturaluni dan menjalankan ritual agamanya
    dengan tenang.
    Sampai akhimya datang tamu istimewa ke suku
    Sukus. Berpenampilan perlente. dua orang
    asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau
    Aya. Gaga dan Sago, begitu mereka mengenal-kan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku
    Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka
    cita. Sakadan para pembantunya sangat lerkesan
    dengan kisah Gaga dan Sago yang ruengaku
    sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua
    orang asing itu lalu memamerkan koin emas
    asing yang mereka kumpulkan dari berbagai
    lempat perlawalan.
    Satu hal lagi  ini yang paling menarik bagi
    Saka dan punggawanya-adalah kertas yang
    dinyatakan sebagai uang. Gaga dan Sago lalu
    memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh
    lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari
    mereka pakai. itulah kenapa uang kertas ini
    sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih
    maju dibanding lempat mereka tinggal. Gaga
    dan Sago yang mulai mendapat respon positif
    semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini
    kepada sang tuang rumah. Lalu, mereka mem-perkenalkan mesin pencelak uang.
    "Gambar Anda nanti akan terpampang dalam
    lembar uang kertas ini," Gaga menunjuk uang
    kertas sembari menyunggingkan senyum kcarah
    Saka.
    "Benarkah?" sela Saka berbinar. Dalam hati
    Saka girang bukan kepalang. Seumur hidupnya,
    tidak ada orang yang memberikan penghormat-an sebagaimana dua tamu istimewanya.
    Kami pun membisikkan ke dada Saka,"Hai
    Saka, kalau uang kertas bergambarkan dirimu
    diterbitkan, pasti kamu menjadi manusia terkenal
    hingga daratan yang pernah disinggahi para
    tamumu yang luar biasa itu."
    "Seratus persen Anda akan menjadi orang
    terkenal!" Sago meninlpali sembru; mengangkat
    dua u jung jempol tangannya ke atas. Sago
    memang agen tulen kami. Tanpa kami bisikan
    sesuatu, ia sudah tahu apa yang harus diper-buat. Dan pujian itu  pun melambungkan
    angannya. Ha.ha .. ha ... pancingan Gago dan
    sago mcngena. Dua agen kami ini pun semakin
    antusias meyakinkan suku Sukus bahwa mata
    uang kertas akan sangat membantu membuat
    perekonomian mereka efisien.
    Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi
    benarna bank perlu didirikan. Bank akan me-nyimpan deposit koin emas mereka yang
    menganggur (idle). Lalu uang deposan ini-sebagai taktik, ya hanya sekadar taktik-bisa
    dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang
    memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua
    sumber daya yang ada menjadi optimal karen
    di aokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif.
    Suku Sukus yang terkenal suka membantu,
    sangat impresif dengan ide itu. Mereka pikir,
    lembaga ini sangat luar biasa karena bisa me-lanjutkan  tradisi mereka untuk membantu
    orang lain. Jadilah ide itu diamini dan dilanjut-kan dengan mendirikan bangunan yang di-fungsikan sebagai bank yang pertamadi Pulau
    Aya.
    Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut
    aja begitu, sangat meriah. Orang sepulau
    tlll1lplek blek jadi satu merayakan hari ber-sejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah
    membawa koin-koin emas yang selama ini
    hanya disimpan di bawah banta!. Setiap satu
    koin emas yang mereka simpan, mereka men-dapatkan ganti uang kertas denganjaminan bila
    sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka
    bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat
    ini  mereka terima dengan koin em as yang
    pemah mereka simpan.
    Harnpir semua anggota suku SukUs menyimpan
    koin em as mereka di Bank Aya. Sejumlah
    100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang
    berarti Baltk Aya -yang dimotori Gago dan
    Sago-menerima 100.000 koin emas. Tak terasa,
    akhimya penduduk negeri Pulau Aya begitu
    menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan
    dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi
    yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan
    nyaman.
    Praktis semakin jarang orang yang mengguna-kan koin emas dalam transaksi sehari-hari.
    Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata
    uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena
    selain lebih mumudahkan transaksi, mereka
    juga dengan mudah menukarkan uang kertas
    mereka dengan koin emas jika mereka me-
    merlukan. Untuk yang satu ini, Gaga dan Sago
    sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada
    yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas
    diberikan. Demikian seterusnya sehingga larna-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas
    miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa
    menukarkannya sepanjang waktu.
    Perkembangan ini temyata menjadi berita di
    mana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau
    Baya, diam-dian] memuji dan ingin sekali praktik
    yang sarna juga diterapkan di pulau mereka.
    Bayangkan, dari semula melakukan jual beli
    dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super
    canggih yang bisa membantu mereka melaku-kan transaksi dengan sangat mudah dan
    efisien.
    Tak sabar, mereka mengutus duta menemui
    Gaga dan Sago. Mereka minta agar sistem
    yang mereka bawa juga bisa diterapkan di
    Pulau Baya. Gaga menyanggupi. Dia meminta
    Sago untuk membuka cabang Bank Aya di
    Pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai
    manajemya. Hanya bedanya, di sini hanya se-dikil penduduknya yang memiliki koin emas.
    "Anda lidak perlu kecil hati," kata Sago meng-hibur."Tanpa koin emas pun Anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga
    pulau Anda," dia bemanis-manis mcnerangkan.
    Tentu saja kelerangan ini disambul gembira
    olch penduduk Pulau Baya.
    A hal, Sago belul-betul agen kami yg cemerlang.
    Otak bulusnya benar-benar tidak mcnyimpang
    dari program yang sudah kami tanamkan: kc-serakahan.
    Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang
    kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu.
    Seliap kepala keluarga diberikan I000 lembar
    uang_ Jadi total uang yang tcrsirkulasi di pulau
    itu mcncapai 100.000. "Karena Anda lidak me-nyimpan koin emas seperti halnya penduduk
    pulau seberang, sebagai gantinya. Anda bisa
    menggunakan uang yang lelah saya bagikan."
    Apa yang dikatakan Sago ilu disambut dengan
    senang. Tcpuk tangan riuh membahana. Mereka  
    bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak
    akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Narnun,
    kemeriahan itu sempat hening ketika Sago
    menyela,"Harap diingat. Uang yang saya bagikan
    tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Nanti
    setelah setahun dari saat ini, Anda harus me-ngembalikan uang ini plus 100 lembar uang
    tambahan."
    "Kenapa harus ada tarnbahan 100? Kenapa
    tidak mengembalikan sejumlah yang kami
    pinjarn?" seorang pemuka suku Tukus menyela.
    "Huuh ! Dasar manusia bebal," umpat karni yang
    tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.
    "Betul Anda memang hanya meminjam 1000.
    Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang
    kami sedikan," Sago dengan senyum lepas men-jelaskan. Penjelasan brilian! Kami turut puas
    mendengar Sago. Tak terasa air liur kami ber-loncatan di sela-sela taring-taring kami yang
    panjang menunggu agar para manusia bodoh
    itu tak lagi rewel menyoal tarnbahan yang wajar.
    Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan
    Sago cukup tepat untuk membungkanl naluri
    kritis warga Tukus. Itu terlibat dari tak surutya
    minat warga Tukus untuk mengambil tawaran
    Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan
    mudahnya bertransaksi dengan uang kertas.
    Dan yang lebih penting lagi, menikmati status
    sebagai warga dunia baru. Modem dan prestisius.
    Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai
    memainkan kartu truf. Dan pengamatan Gaga,
    di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen
    uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada
    setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada
    di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati
    bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat
    tukar, kami pun lergelak.
    "Hai Gaga, kenapa tidak kau cetak uang lagi?
    Bukankah hanya sedikil dari mereka yang
    menukarkan uang kertasnya dengan koin emas?
    Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa
    dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak
    cerdasmll," beginilah kami tak henti menggelitiki
    Gaga.
    Dan benar, Gago memang agen kami yang
    jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih
    banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga
    900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, di-tambah jumlah uang kertas yang telah dibagi-kan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada
    orang yang datang hendak menukarkan uang
    kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang
    terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin
    emas, yang tidak lain adalah kain yang telah
    disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau
    hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi,
    bukankah cadangan koin emas yang diperlukan
    sudah cukup?
    Fantastic! Creating Money from nothing!
    Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya
    orang-orang seperti Gaga, kawan kami, yang
    bisa. Begitulah. Akal bulas Gaga bergerak. la
    pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru
    dicetaknya kepada warga Sukus yang me-merlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip
    tambahan ekstra sebesar 10 persen dati pokok,
    nah Gaga meningkatkan kutipan hingga 15
    persen. Artinya kalau seseorang meminjam
    1000 lembar uang kenas. di akhir tahun ia harus
    mengembalikan 1150 uang kenas. di mana
    150-nya adalah charge dari layanan yang di-berikan.
    Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu eepat.
    Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi
    dengan suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti.
    penduduk pulau Aya merasakan harga-harga
    kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka
    tidak tahu apa penyebabnya. Banyak di antara
    orang yang meminjam uang dari Gago itu meng-alami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas
    atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras,.
    mereka masih kcsulitan melunasi utang berikut
    bunganya. Dan mereka memang tidak akan
    pemah bisa. Bahkan ketika mereka menjadikan
    24 jam untuk bekerja. Lihatlah. uang yang di-pinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15
    persen. berani senilai 135.000 atau jumlah total
    meneapai 1.135.000. Padahal. jumlah uang
    yang beredar banya 1.000.000 (100.000 diberi-kan sebagai ganti 100.000 keping koin emas.
    ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).
    Dan inilah panen raya yang kami tunggu. Kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena
    sistem yang dikenalkan dua agen top kami
    itulah yang pertamakali mengubah watak bisnis
    kekeluargaan menjadi bisnis yang individual
    kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang
    harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong,
    perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi
    yang berhutang- harus bekerja keras demi
    mengejar uang untuk melunasi kewajibannya.
    Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu
    sebagian rumah penduduk. kebiasaan mereka
    untuk saling bantu luntur, Prinsip saling mem-bantu berubah menjadi time is money. Mem-bantu orang boleh, tapi harus ada kompensasi-nya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab
    perlahan berubah individual. Masing-masing
    mulai terbebani untuk berusaha keras untuk
    kepentingan masing-masing. Sungguh per-ubahan yang sulit sekali kami capai sendirian.
    bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan
    Sago.
    Hal yang sama pun dialami oleh Suku Tukus.
    Awalnya mereka tidak menyadari. Namun,
    lambat laun mereka merasakan perubahan.
    Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar
    dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini
    mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak lahu
    kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu,
    harga-harga terus merambat naik. Padahal,
    mereka telah membanting tulang dan bekerja
    lebih keras. Kerjasama antar warga yang semula
    menjadi tradisi. lama-kelarnaan juga mulai
    luntur. Mereka menjadi egois. diburu kebuluhan
    masing-masing. Toh di akhir tahun tidak semua
    bisa membayar kewajibannya. Seperti dialami
    suku Sukus, suku Tukus pun anggotanya banyak
    yang defallit alias gagal bayar.
    Melihat perkembangan ini, kami di duma setan
    pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakus-an menjadi idiologi, di sitlilah singgasana kami
    dibangun. Karena itu. kami pun semakin rajin
    membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya
    berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin me-nguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya
    berlagak saling bantu itu.  
    Gaga dan Sago memang sangat impresif.
    Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika
    mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk
    memenangkan keadaan. Kepada para penunggak
    sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya,
    dengan menyita harta benda mereka. Rumah,
    sawah, lemak dan maupun harta benda lainnya
    pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak
    yang mempunyai hubungan baik dengan Gaga
    dan Sago diberi kesempatan untuk memper-panjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim-pinan suku Tukus, salah seorang di antara pe-nunggak. Maka untuk atas nama "kebaikan
    hati" Sago bukan saja memberikan tambahan
    waktu mengangsur utang. tapi juga memberi-kan tambahan utang barn. Kenapa? Dia ber-alasan utang ini biar bisa dipakai untuk me-lancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka
    kembali tak bisa melunasi utangnya.
    Malu karena tak bisa membayar kewajiban,
    Taka menarik diri dan menghindari bertemu
    dengan Sago. Ia mulai kehilangan kepercayaan
    diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku
    Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago
    yang semula berlagak membantu, kini tinggal
    melakukan eksekusi. Ia semakin kaya. Ia pun
    berubah lagaknya Tuan Besar. Ha .. ha .. ha ...
    dalam dunia kami, kedua agen ini memang
    layak sombong. Karena kepintaran dan ke-jeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja
    yang menyebut cara-caranya menguasai
    manusia-manusai bodoh itu sebagai keculasan.
    Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal,
    persetan dengan moral.
    Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan
    Sago yang semula datang ke Aya dan Baya
    dengan modal mesin pencetak uang, kini telah
    menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua
    pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi
    dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka
    pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik
    negeri itu.
    Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah
    sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba
    seperti menjadi endemik yang terus menyebar
    cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang
    sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara
    dan tetangga. Mereka semakin jarang melaku-kan upacara keagamaan. Lebih parah lagi,
    mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
    Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang
    sering mereka dengar dari negara antah berantah,
    kini menghampiri: marak di depan hidung
    mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang,
    mereka mengorbankan anak dan bahkan istri-nya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula
    begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya
    baru. Semua budaya yang datang dari Gago
    dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun
    lambat laun punah. Gago dan Sago telah me-nguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi,
    budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa
    mereka beli malalui uang.
    Namun ini bukan akhir petualangan mereka.
    Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau
    Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di
    dunia berada dalam pengaruh kekuasaan
    mereka. Target mereka bukan untuk menaklu
    kan temara musuh di negara-negara jauh. Tapi,
    menaklukkan ekonomi mereka. Membuat
    mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba,
    mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui
    uang tanpa jaminan, aturan cadangan
    10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus
    ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua
    penduduk negeri sudah mereka kuasai.
    Perangkap inilah yang dengan cerita dan
    intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia
    Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami
    kembangkan, sehingga segelintir agen kami
    yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak
    yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu se-karang sudah mulai recovery, sasaran bisa
    dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan
    yang sarna, tentu menunggu saat yang tepat
    muncul kembali. Saar-saat balon ekonomi dan
    keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat
    ketika kami untuk kesekian kali merayakan
    kemenangan karena tiga pilar utama setan-fiat money, fractional reserve requirement,

    dan interest-behasil menggoyang ekonomi.Kisah Sukus dan Tukus

    Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau
    yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan
    Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup
    sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang
    subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian
    mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis.lkan dan sumberdaya laut sangat
    melimpah. lidak hanya itu, Pulau Aya terkenal
    dengan panoramanya yang indah. Gemericik
    air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik
    tersendiri. Tak heran bila pulau ini rnenjadi tempat  
    tujuan para pelancong dan wisatawan lokal
    maupun luar pulau.
    Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban
    yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang
    mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka
    bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia
    ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas
    dan menyimpannya sebagai simbul harta ke-kayaan.
    Selain sebagai simbul peradaban, emas juga
    berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka,
    sang ketua suku, mencetak koin emas, maka
    semua transaksi jual beli yang semula dilakukan
    dengan barter beralih dan diukur dengan emas.
    Berdagang pun menjadi lebih mudah dan
    simpel.
    Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian.
    Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting.
    Ini bisa dilihat-dari cara mereka yang saling
    tolong-menolong. (Kami di dunia setan sangat
    membenci perilaku ini). Ketika anggota suku  
       membangun rumah baru karena rumah
    lama tersapu ombak. yang berarti menguras
    emas simpanannya. anggota-anggota suku
    lainnya dengan suka rela meminjamkan em as
    miliknya. Hebatnya. tanpa charge atau tambahan
    apapun. "Dasar manusia bodoh. sudah me-minjamkan uang kok tidak mau minta kom-pensasi." begitu gerutuan kami.
    Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu
    saja, mereka juga bergotong royong satu sarna
    lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin. paling
    tidak, mereka lakukan inj dengan riya. Pantas-lah bila kerudupan mereka meskipun sederhana
    tapi diliputi semangal keseliakawanan yang
    tinggi. Anggola suku terbiasa bahu-membahu
    mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata.
    mereka hidup rukun dan damai.
    Sementara pulau tetangganya. Pulau Baya.
    didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduk-nya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di
    sawah atau ladang dan memelihara lernak.
    Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus.
    memproduksi kerajinan tangan.
    Dibandingkan suku Sukus. mereka lebih
    sederhana. Mereka masih menggunakan sistem
    barter dalam transaksi keseharian. Yang meng-hasilkan padi menukar berasnya dengan ke-rajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang
    secara ekonomi. kesejahteraan mereka di bawah
    suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya
    pekelja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota
    yang indah dan maju seperti halnya Sukus.
    Sesekali mereka menjual hasil bumi dan
    handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka.
    apalagi para wanitanya, sangat senang me-nerima koin emas sebagai jasa dari padi atau
    kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meski-pun berbeda dalam hal kesejahteraan. ada satu
    persamaan menonjol di antara Sukus dan
    Tukus. Mereka sama-sama hidup damai. rukun.
    dan saling tolong-menolong. Mereka sering
    bersilaturaluni dan menjalankan ritual agamanya
    dengan tenang.
    Sampai akhimya datang tamu istimewa ke suku
    Sukus. Berpenampilan perlente. dua orang
    asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau
    Aya. Gaga dan Sago, begitu mereka mengenal-kan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku
    Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka
    cita. Sakadan para pembantunya sangat lerkesan
    dengan kisah Gaga dan Sago yang ruengaku
    sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua
    orang asing itu lalu memamerkan koin emas
    asing yang mereka kumpulkan dari berbagai
    lempat perlawalan.
    Satu hal lagi  ini yang paling menarik bagi
    Saka dan punggawanya-adalah kertas yang
    dinyatakan sebagai uang. Gaga dan Sago lalu
    memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh
    lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari
    mereka pakai. itulah kenapa uang kertas ini
    sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih
    maju dibanding lempat mereka tinggal. Gaga
    dan Sago yang mulai mendapat respon positif
    semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini
    kepada sang tuang rumah. Lalu, mereka mem-perkenalkan mesin pencelak uang.
    "Gambar Anda nanti akan terpampang dalam
    lembar uang kertas ini," Gaga menunjuk uang
    kertas sembari menyunggingkan senyum kcarah
    Saka.
    "Benarkah?" sela Saka berbinar. Dalam hati
    Saka girang bukan kepalang. Seumur hidupnya,
    tidak ada orang yang memberikan penghormat-an sebagaimana dua tamu istimewanya.
    Kami pun membisikkan ke dada Saka,"Hai
    Saka, kalau uang kertas bergambarkan dirimu
    diterbitkan, pasti kamu menjadi manusia terkenal
    hingga daratan yang pernah disinggahi para
    tamumu yang luar biasa itu."
    "Seratus persen Anda akan menjadi orang
    terkenal!" Sago meninlpali sembru; mengangkat
    dua u jung jempol tangannya ke atas. Sago
    memang agen tulen kami. Tanpa kami bisikan
    sesuatu, ia sudah tahu apa yang harus diper-buat. Dan pujian itu  pun melambungkan
    angannya. Ha.ha .. ha ... pancingan Gago dan
    sago mcngena. Dua agen kami ini pun semakin
    antusias meyakinkan suku Sukus bahwa mata
    uang kertas akan sangat membantu membuat
    perekonomian mereka efisien.
    Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi
    benarna bank perlu didirikan. Bank akan me-nyimpan deposit koin emas mereka yang
    menganggur (idle). Lalu uang deposan ini-sebagai taktik, ya hanya sekadar taktik-bisa
    dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang
    memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua
    sumber daya yang ada menjadi optimal karen
    di aokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif.
    Suku Sukus yang terkenal suka membantu,
    sangat impresif dengan ide itu. Mereka pikir,
    lembaga ini sangat luar biasa karena bisa me-lanjutkan  tradisi mereka untuk membantu
    orang lain. Jadilah ide itu diamini dan dilanjut-kan dengan mendirikan bangunan yang di-fungsikan sebagai bank yang pertamadi Pulau
    Aya.
    Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut
    aja begitu, sangat meriah. Orang sepulau
    tlll1lplek blek jadi satu merayakan hari ber-sejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah
    membawa koin-koin emas yang selama ini
    hanya disimpan di bawah banta!. Setiap satu
    koin emas yang mereka simpan, mereka men-dapatkan ganti uang kertas denganjaminan bila
    sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka
    bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat
    ini  mereka terima dengan koin em as yang
    pemah mereka simpan.
    Harnpir semua anggota suku SukUs menyimpan
    koin em as mereka di Bank Aya. Sejumlah
    100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang
    berarti Baltk Aya -yang dimotori Gago dan
    Sago-menerima 100.000 koin emas. Tak terasa,
    akhimya penduduk negeri Pulau Aya begitu
    menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan
    dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi
    yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan
    nyaman.
    Praktis semakin jarang orang yang mengguna-kan koin emas dalam transaksi sehari-hari.
    Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata
    uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena
    selain lebih mumudahkan transaksi, mereka
    juga dengan mudah menukarkan uang kertas
    mereka dengan koin emas jika mereka me-
    merlukan. Untuk yang satu ini, Gaga dan Sago
    sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada
    yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas
    diberikan. Demikian seterusnya sehingga larna-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas
    miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa
    menukarkannya sepanjang waktu.
    Perkembangan ini temyata menjadi berita di
    mana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau
    Baya, diam-dian] memuji dan ingin sekali praktik
    yang sarna juga diterapkan di pulau mereka.
    Bayangkan, dari semula melakukan jual beli
    dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super
    canggih yang bisa membantu mereka melaku-kan transaksi dengan sangat mudah dan
    efisien.
    Tak sabar, mereka mengutus duta menemui
    Gaga dan Sago. Mereka minta agar sistem
    yang mereka bawa juga bisa diterapkan di
    Pulau Baya. Gaga menyanggupi. Dia meminta
    Sago untuk membuka cabang Bank Aya di
    Pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai
    manajemya. Hanya bedanya, di sini hanya se-dikil penduduknya yang memiliki koin emas.
    "Anda lidak perlu kecil hati," kata Sago meng-hibur."Tanpa koin emas pun Anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga
    pulau Anda," dia bemanis-manis mcnerangkan.
    Tentu saja kelerangan ini disambul gembira
    olch penduduk Pulau Baya.
    A hal, Sago belul-betul agen kami yg cemerlang.
    Otak bulusnya benar-benar tidak mcnyimpang
    dari program yang sudah kami tanamkan: kc-serakahan.
    Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang
    kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu.
    Seliap kepala keluarga diberikan I000 lembar
    uang_ Jadi total uang yang tcrsirkulasi di pulau
    itu mcncapai 100.000. "Karena Anda lidak me-nyimpan koin emas seperti halnya penduduk
    pulau seberang, sebagai gantinya. Anda bisa
    menggunakan uang yang lelah saya bagikan."
    Apa yang dikatakan Sago ilu disambut dengan
    senang. Tcpuk tangan riuh membahana. Mereka  
    bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak
    akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Narnun,
    kemeriahan itu sempat hening ketika Sago
    menyela,"Harap diingat. Uang yang saya bagikan
    tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Nanti
    setelah setahun dari saat ini, Anda harus me-ngembalikan uang ini plus 100 lembar uang
    tambahan."
    "Kenapa harus ada tarnbahan 100? Kenapa
    tidak mengembalikan sejumlah yang kami
    pinjarn?" seorang pemuka suku Tukus menyela.
    "Huuh ! Dasar manusia bebal," umpat karni yang
    tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago.
    "Betul Anda memang hanya meminjam 1000.
    Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang
    kami sedikan," Sago dengan senyum lepas men-jelaskan. Penjelasan brilian! Kami turut puas
    mendengar Sago. Tak terasa air liur kami ber-loncatan di sela-sela taring-taring kami yang
    panjang menunggu agar para manusia bodoh
    itu tak lagi rewel menyoal tarnbahan yang wajar.
    Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan
    Sago cukup tepat untuk membungkanl naluri
    kritis warga Tukus. Itu terlibat dari tak surutya
    minat warga Tukus untuk mengambil tawaran
    Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan
    mudahnya bertransaksi dengan uang kertas.
    Dan yang lebih penting lagi, menikmati status
    sebagai warga dunia baru. Modem dan prestisius.
    Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai
    memainkan kartu truf. Dan pengamatan Gaga,
    di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen
    uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada
    setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada
    di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati
    bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat
    tukar, kami pun lergelak.
    "Hai Gaga, kenapa tidak kau cetak uang lagi?
    Bukankah hanya sedikil dari mereka yang
    menukarkan uang kertasnya dengan koin emas?
    Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa
    dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak
    cerdasmll," beginilah kami tak henti menggelitiki
    Gaga.
    Dan benar, Gago memang agen kami yang
    jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih
    banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga
    900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, di-tambah jumlah uang kertas yang telah dibagi-kan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada
    orang yang datang hendak menukarkan uang
    kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang
    terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin
    emas, yang tidak lain adalah kain yang telah
    disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau
    hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi,
    bukankah cadangan koin emas yang diperlukan
    sudah cukup?
    Fantastic! Creating Money from nothing!
    Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya
    orang-orang seperti Gaga, kawan kami, yang
    bisa. Begitulah. Akal bulas Gaga bergerak. la
    pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru
    dicetaknya kepada warga Sukus yang me-merlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip
    tambahan ekstra sebesar 10 persen dati pokok,
    nah Gaga meningkatkan kutipan hingga 15
    persen. Artinya kalau seseorang meminjam
    1000 lembar uang kenas. di akhir tahun ia harus
    mengembalikan 1150 uang kenas. di mana
    150-nya adalah charge dari layanan yang di-berikan.
    Hari pun berganti. Bulan berjalan begitu eepat.
    Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi
    dengan suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti.
    penduduk pulau Aya merasakan harga-harga
    kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka
    tidak tahu apa penyebabnya. Banyak di antara
    orang yang meminjam uang dari Gago itu meng-alami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas
    atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras,.
    mereka masih kcsulitan melunasi utang berikut
    bunganya. Dan mereka memang tidak akan
    pemah bisa. Bahkan ketika mereka menjadikan
    24 jam untuk bekerja. Lihatlah. uang yang di-pinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15
    persen. berani senilai 135.000 atau jumlah total
    meneapai 1.135.000. Padahal. jumlah uang
    yang beredar banya 1.000.000 (100.000 diberi-kan sebagai ganti 100.000 keping koin emas.
    ditambah uang baru 900.000 yang dicetak Gago).
    Dan inilah panen raya yang kami tunggu. Kesuksesan Gago dan Sago. Kami sebut begitu, karena
    sistem yang dikenalkan dua agen top kami
    itulah yang pertamakali mengubah watak bisnis
    kekeluargaan menjadi bisnis yang individual
    kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang
    harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong,
    perlahan luntur. Masing-masing kepala -apalagi
    yang berhutang- harus bekerja keras demi
    mengejar uang untuk melunasi kewajibannya.
    Sehingga, ketika ada ombak besar menyapu
    sebagian rumah penduduk. kebiasaan mereka
    untuk saling bantu luntur, Prinsip saling mem-bantu berubah menjadi time is money. Mem-bantu orang boleh, tapi harus ada kompensasi-nya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab
    perlahan berubah individual. Masing-masing
    mulai terbebani untuk berusaha keras untuk
    kepentingan masing-masing. Sungguh per-ubahan yang sulit sekali kami capai sendirian.
    bila tanpa dua kaki tangan kami si Gago dan
    Sago.
    Hal yang sama pun dialami oleh Suku Tukus.
    Awalnya mereka tidak menyadari. Namun,
    lambat laun mereka merasakan perubahan.
    Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar
    dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini
    mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak lahu
    kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu,
    harga-harga terus merambat naik. Padahal,
    mereka telah membanting tulang dan bekerja
    lebih keras. Kerjasama antar warga yang semula
    menjadi tradisi. lama-kelarnaan juga mulai
    luntur. Mereka menjadi egois. diburu kebuluhan
    masing-masing. Toh di akhir tahun tidak semua
    bisa membayar kewajibannya. Seperti dialami
    suku Sukus, suku Tukus pun anggotanya banyak
    yang defallit alias gagal bayar.
    Melihat perkembangan ini, kami di duma setan
    pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakus-an menjadi idiologi, di sitlilah singgasana kami
    dibangun. Karena itu. kami pun semakin rajin
    membisiki Gago dan Sago untuk tidak hanya
    berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin me-nguasai manusia-manusia bodoh yang dulunya
    berlagak saling bantu itu.  
    Gaga dan Sago memang sangat impresif.
    Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika
    mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk
    memenangkan keadaan. Kepada para penunggak
    sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya,
    dengan menyita harta benda mereka. Rumah,
    sawah, lemak dan maupun harta benda lainnya
    pun segera berpindah tangan. Sementara penunggak
    yang mempunyai hubungan baik dengan Gaga
    dan Sago diberi kesempatan untuk memper-panjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pim-pinan suku Tukus, salah seorang di antara pe-nunggak. Maka untuk atas nama "kebaikan
    hati" Sago bukan saja memberikan tambahan
    waktu mengangsur utang. tapi juga memberi-kan tambahan utang barn. Kenapa? Dia ber-alasan utang ini biar bisa dipakai untuk me-lancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka
    kembali tak bisa melunasi utangnya.
    Malu karena tak bisa membayar kewajiban,
    Taka menarik diri dan menghindari bertemu
    dengan Sago. Ia mulai kehilangan kepercayaan
    diri. Kewibawaannya sebagai kepala Suku
    Tukus berbalik ke titik nadir. Sementara, Sago
    yang semula berlagak membantu, kini tinggal
    melakukan eksekusi. Ia semakin kaya. Ia pun
    berubah lagaknya Tuan Besar. Ha .. ha .. ha ...
    dalam dunia kami, kedua agen ini memang
    layak sombong. Karena kepintaran dan ke-jeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja
    yang menyebut cara-caranya menguasai
    manusia-manusai bodoh itu sebagai keculasan.
    Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal,
    persetan dengan moral.
    Setelah beberapa tahun berselang, Gago dan
    Sago yang semula datang ke Aya dan Baya
    dengan modal mesin pencetak uang, kini telah
    menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua
    pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi
    dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka
    pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik
    negeri itu.
    Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah
    sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba
    seperti menjadi endemik yang terus menyebar
    cepat. Mereka bekerja keras, untuk hasil yang
    sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara
    dan tetangga. Mereka semakin jarang melaku-kan upacara keagamaan. Lebih parah lagi,
    mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
    Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang
    sering mereka dengar dari negara antah berantah,
    kini menghampiri: marak di depan hidung
    mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang,
    mereka mengorbankan anak dan bahkan istri-nya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula
    begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya
    baru. Semua budaya yang datang dari Gago
    dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun
    lambat laun punah. Gago dan Sago telah me-nguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi,
    budaya, kekuasaan, dan keadilan yang bisa
    mereka beli malalui uang.
    Namun ini bukan akhir petualangan mereka.
    Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau
    Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di
    dunia berada dalam pengaruh kekuasaan
    mereka. Target mereka bukan untuk menaklu
    kan temara musuh di negara-negara jauh. Tapi,
    menaklukkan ekonomi mereka. Membuat
    mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba,
    mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui
    uang tanpa jaminan, aturan cadangan
    10 persen, dan bunga. Tiga kombinasi jurus
    ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua
    penduduk negeri sudah mereka kuasai.
    Perangkap inilah yang dengan cerita dan
    intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia
    Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami
    kembangkan, sehingga segelintir agen kami
    yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak
    yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu se-karang sudah mulai recovery, sasaran bisa
    dialihkan ke tempat lain. Boleh juga, di kawasan
    yang sarna, tentu menunggu saat yang tepat
    muncul kembali. Saar-saat balon ekonomi dan
    keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat
    ketika kami untuk kesekian kali merayakan
    kemenangan karena tiga pilar utama setan-fiat money, fractional reserve requirement,
    dan interest-behasil menggoyang ekonomi.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Beauty

    Fashion

    Flag Counter

    Test Footer

    Travel